:::: MENU ::::

Senin, 20 Agustus 2018

Oleh: Ajun Pujang Anom

Sumber gambar: www.etsy.com

Ada yang menganggap anak-anak yang sedang sekolah seperti binatang, punya keahlian tertentu. Misal elang, yang jago terbang. Bisa melakukan berbagai manuver yang mengagumkan di udara. Ada tupai yang lihai dalam memanjat pohon. Seakan tak terbersit rasa takut jatuh di benaknya. Enjoy lah dia, dalam lompat melompat antar dahan. Begitu pula dengan bebek, sang pakar berenang. Yang dengan mudahnya menggerak-gerakkan kaki berselaputnya untuk menyibak aliran sungai. Dengan sesekali memasukkan kepalanya ke dalam air. Seolah-olah melakukan adegan penyelaman. Benarkah anggapan tersebut? Mari kita ulas!

Binatang sejak lahir sudah dikaruniai keahlian tertentu. Sehingga dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan keahliannya tersebut. Berbeda dengan manusia. Manusia tidak cuma diberi satu anugerah, tapi banyak. Makanya bisa melakukan banyak hal (multitasking). Meski begitu, tak dapat dipungkiri manusia juga berkecenderungan untuk menyukai satu-dua hal saja. Dan ini biasa disebut dengan minat.

Bagaimana halnya dengan bakat? Bakat adalah kemampuan spesial yang diberikan kepada seseorang. Oleh karena itu, setiap orang pasti memiliki suatu bakat. Namun yang menjadi persoalan, tidak semua orang paham akan bakatnya. Walau ada pameo yang bilang, hanya bakatlah yang menunjukkan jalan kesuksesan. Selain itu, meskipun tahu, tak menjamin dia suka atau dapat dikembangkan. Mengapa tak dapat dikembangkan? Karena banyak faktor jawabnya. Contohnya ada seseorang yang bersuara merdu, dan bisa menyanyi pula. Namun karena tak ada sokongan keluarga. Apalagi lingkungan sosial yang melingkupinya, tidak begitu menyukai orang yang mampu bernyanyi. Sehari-hari juga tinggal di sekitar hutan, yang otomatis memancing dirinya untuk gemar berburu. Akhirnya, setelah tumbuh besar menjadi atlet berburu.

Di sini terlihat jelas, tak selamanya bakat atau bahasa lainnya "potensi diri" akan menjadi pembimbing ke jalan kesuksesan. Sebab kesuksesan seseorang tak selalu ditentukan oleh bakat. Secara internal, keberhasilan dijamin oleh tiga hal, yaitu do'a, ikhtiar, dan pasrah. Lantas dimana posisi sekolah? Posisi sekolah adalah bagian daripada ikhtiar. Oleh sebab itu setiap sekolah harus mampu memfasilitasi untuk timbulnya bakat dan menyuburkan minat peserta didiknya. Tanpa harus "memaksakan" setiap murid harus punya satu skill tertentu. Dan karena kita adalah guru, instrumen utama dalam pendidikan, yang harus menerjemahkan hal tersebut. Apalagi Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, telah mengatakan "GURU ADALAH KURIKULUM" itu sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar