:::: MENU ::::

Senin, 26 November 2018

Oleh: Ajun Pujang Anom


Hari ini, tanggal 26 November 2018, sungguh hari yang membahagiakan bagi segenap guru di Kabupaten Bojonegoro. Mengapa hari ini menjadi hari yang membahagiakan? Sebab di hari ini, para anggota MPR RI rawuh ke Bojonegoro, tepatnya di Kantor PGRI Kabupaten Bojonegoro. Beliau-beliau ini hadir dalam rangka melakukan sosialisasi Empat Pilar. Ini tentu kado terindah bagi kita sebagai guru. Sebab baru sehari lewat, tanggal 25 November 2018 adalah Hari Guru Nasional.

Kedatangan beliau-beliau ini merupakan penghargaan sekaligus kepercayaan kepada kita, sebagai insan pendidik. Karena tak dapat dipungkiri Empat Pilar yang terdiri dari:
1. Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara
2. UUD NRI Tahun 1945 sebagai Konstitusi Negara serta Ketetapan MPR
4. NKRI sebagai Bentuk Negara dan
5. Bhinneka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara
dalam pemahamannya lekat dengan dunia pendidikan. Sebab lewat guru, pemasyarakatan pilar-pilar tadi akan terencana dan terpola sebagaimana mestinya. Sehingga output yang diharapkan akan termanifestasi dengan baik.

Sudah kita ketahui bersama saat ini dan termaktub pula dalam TAP MPR No. VI Tahun 2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Dalam TAP MPR itu disebutkan ada dua faktor, yaitu internal dan eksternal.

Faktor internal ini berisi tentang:
1. Masih lemahnya penghayatan dan pengamalan agama serta munculnya pemahaman terhadap ajaran agama yang keliru dan sempit.
2. Pengabaian terhadap kepentingan daerah serta timbulnya fanatisme kedaerahan.
3. Kurang berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebhinekaan dan kemajemukan.
4. Kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagian pemimpin dan tokoh bangsa.
5. Tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal.

Sedangkan faktor eksternal terdiri dari dua hal, yaitu:
1. Pengaruh Globalisasi kehidupan yang semakin meluas dan persaingan antar bangsa yang semakin tajam.
2. Makin kuatnya intensitas intervensi global dalam perumusan kebijakan nasional.

Melihat kedua hal tadi, gawe antara MPR RI dengan PGRI Kabupaten Bojonegoro untuk menyelenggarakan sosialisasi Empat Pilar kiranya sudah tepat dan memang sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, 300 undangan yang terdiri dari Pengurus Cabang PGRI  Se-Kabupaten Bojonegoro ini diharapkan mampu menjadi penggerak di lingkungannya masing-masing dalam pelaksanaannya. Sehingga masyarakat dan kelak generasi penerus bangsa, terbentengi dari pengaruh buruk, baik yang berasal dari dalam negeri maupun datangnya dari luar negeri.

Bojonegoro, 26 November 2018

Rabu, 14 November 2018

Oleh: Ajun Pujang Anom
Sumber gambar: http://www.drewlitton.com

Apakah kita sebagai guru sudah menampilkan citra diri positif? Eits, mungkin ada yang bertanya-tanya tentang apa itu citra diri. Citra diri adalah gambaran mental tentang diri sendiri yang diyakini kebenarannya. Citra diri ini dibentuk mulai sejak dini. Jadi ia berasal dari kultur, pengetahuan, dan pengalaman yang nantinya akan menciptakan apa yang terjadi pada dirinya di masa depan. Mengapa ia bisa disebut menciptakan masa depan? Sebab ia menjadi pemandu segala tingkah laku dan usaha yang dilakukan dalam keseharian.

Dari sini bisa dilihat betapa pentingnya citra diri bagi seorang guru. Tentunya sebagai guru tak maulah disebut mempunyai citra diri negatif. Masak sih ada guru yang mau dipanggil guru pemalas? Apalagi guru bodoh. Tak ada yang mau bukan?

Namun persoalannya, sudahkah menempelkan citra diri positif pada dirinya? Karena citra diri positif, akan mudah dikenali dan dilihat. Baik oleh sesama rekan guru maupun oleh siswanya.

Dari sisi murid sendiri, akan berperan besar pada perkembangan kepribadian mereka. Guru yang mempunyai pengetahuan luas dan serba bisa, akan mereka sebut sebagai "ensiklopedia berjalan atau wikipedia versi manusia". Guru yang ramah dan tidak suka marah-marah, akan digelari "guru yang sabar bin selow". Dari dua citra positif ini saja, sudah membuat mereka secara tak sadar melakukan *modelling*. Dari palung hati yang paling dalam, ada keinginan untuk menjiplak perilaku tersebut. Selain daripada itu, guru yang memiliki citra diri positif, cenderung melahirkan respek. Anak-anak menjadi lebih taat secara natural, tanpa dipaksa.

Apakah jika ada guru yang tak memiliki citra diri positif, bisa dirubah? Bisa, asal ada kesadaran dan keinginan yang kuat. Dan memang harus segera melakukannya, apabila tak punya, sungguh terlampau sulit. Misalnya suka menyuruh anak didiknya untuk mengarang. Eh, ternyata ketika ada pelatihan menulis, menolak untuk ikut dengan alasan, "Ah, saya itu nggak bisa menulis kok". Lha kalau tak bisa menulis, kok menyuruh orang untuk menulis. Ini kan namanya egois. Dan pastinya beliau asal suruh, tanpa mempunyai pengetahuan. Ini lho yang namanya merusak siswa. Dan ini baru satu permisalan saja.

Bojonegoro, 14 November 2018

Minggu, 11 November 2018

Oleh: Ajun Pujang Anom
Sumber gambar: https://www.elementarymatters.com

Setelah sekian lama menjadi guru, saya menemui beberapa fenomena yang menggelikan. Salah satunya tentang kemampuan guru senior dan yunior. Guru yunior selalu mendapat cap guru yang hanya pandai soal teknologi atau lebih tepatnya yang kekinian. Jadi mereka dianggap lemah, bahkan nyaris tak memiliki kemampuan mendidik. Bisanya cuma "berhias" dan jauh dari pemahaman nilai-nilai tradisional. Sedangkan guru senior sebaliknya dianggap masih memegang nilai, terampil dalam banyak hal meskipun minus dalam bidang teknologi dan kreativitas. Selain daripada itu juga dicap suka mengeluh dan hobi melimpahkan tugas ke guru yunior. Namun apabila ada yang berbau uang, larinya melesat tak peduli membuat terjengkang guru yunior.

Membaca tulisan di atas, bisa jadi ada beberapa guru menjadi mendadak dongkol. Dan mungkin bisa bilang seperti ini, "Ih, apaan? Sok tau."

Saya sadar sesadar-sadarnya, bahwa fakta yang berhasil saya tangkap dan terbitkan ini, tak ayal akan memancing emosi beberapa pihak. Tapi saya ingat nasehat berharga, bahwa kebenaran itu selalu pahit, ketika diungkapkan. Untuk itu, fakta ini saya munculkan.

Agar apa? Agar kita mempunyai kesadaran. Melakukan auto-refleksi, sudah seberapa jauhkah peran-peran kita sebagai guru. Apakah kita sudah benar-benar menjalankan fungsi sebagai guru? Apakah kita telah tulus ikhlas mendampingi anak didik untuk menemukan dan mengembangkan potensinya?

Tak ada guru yang lebih baik dari lainnya. Yang ada, masing-masing guru mempunyai kehebatan. Dengan kehebatan ini, mereka berkolaborasi untuk menciptakan perikehidupan yang lebih baik. Sebab guru adalah agen peradaban yang sejati. Dan guru yang berprestasi dalam pengertian sebenarnya, bukanlah guru yang membuat diri dan muridnya meraih banyak penghargaan dan memenangi kejuaraan. Namun guru yang berhasil mengantarkan siswa-siswinya ber-akhlakul karimah, berbudi pekerti yang baik.

Bojonegoro, 11 November 2018

Minggu, 23 September 2018


Oleh: Ajun Pujang Anom
Sumber gambar: http://www.ebonheart.net

Siapa guru yang hari Minggunya dihabiskan bergolek di tempat tidur? Hampir dipastikan tak ada, di hari ini malahan guru tambah "sibuk". Sebab hari Minggu dibuat untuk kegiatan bersih-bersih rumah besar-besaran. Ini saja sering kekurangan waktu. Belum jika ditambah acara pergi ke mantenan, beranjangsana ke rumah kerabat, piknik, training, maupun yang melakukan bisnis sampingan di akhir pekan. Manalah sempat untuk menjadikan hari Ahad, totalitas libur aktivitas? Meski betul hari itu dijadikan sebagai hari recharge diri.

Maka sangat terdengar menggelikan jika salah satu cocoklogi tentang guru, menyebutkan bahwa "guru, yen Minggu turu" (guru, kalau Minggu tidur). Ini sebuah nyinyiran tak beradab, kalau tak boleh disebut tak bermoral. Jadi ini bisa disebut sindiran yang melecehkan.

Bahkan seakan menyokong pemikiran yang salah kaprah, terhadap peran guru selama ini. Ada yang berpikir guru adalah sejenis profesi yang kental dengan nuansa kemalasan. Bagaimana tidak malas, menurut pendapat mereka, guru dicap hanya bisa marah-marah di kelas, memberi tugas berlebihan, suka mainan hape di sela mengajar, dan ribut jika tunjangan terlambat.

Mereka lupa, bahwa mereka dapat mengarungi kehidupan yang "keras" ini, berkat peran guru. Tanpa sentuhan tangan guru, mana mungkin, peradaban dunia bisa tetap berlangsung. Karena itu, sangatlah tepat bila guru disebut sebagai garda terdepan dari kebudayaan.

Menjadi guru artinya menjadi abdi kinasih bagi kemanusiaan. Setia ngemong dengan penuh ketelatenan dan ketulusan.

Bojonegoro, 23 September 2018

Sabtu, 08 September 2018

Oleh: Ajun Pujang Anom

Akhirnya APKS PGRI Kab. Bojonegoro meluncurkan logonya. Tentu dengan adanya logo ini menjadikan jalannya organisasi menjadi semakin lancar. Karena logo adalah penanda atau identitas sebuah organisasi. Selain itu juga, logo menjadi semacam motor penyemangat. Sebab di dalam logo tersirat simbol-simbol dari visi dan misinya organisasi.

Seperti yang terlihat pada logo APKS PGRI Kab. Bojonegoro ini. Sebagai bagian dari entitas PGRI Kab. Bojonegoro, tulisan APKS PGRI Kab. Bojonegoro dicantumkan tepat di bawah logo PGRI.

Dan sudah diketahui bersama bahwa APKS PGRI Kab. Bojonegoro, adalah lembaga baru di lingkungan PGRI Kab. Bojonegoro. Sebagai lembaga baru yang juga terstruktur mulai dari pusat.

Bergerak untuk mengakomodaasi kebutuhan akan perbaikan dan peningkatan mutu guru. Dengan adanya perbaikan dan peningkatan mutu guru ini, diharapkan akan berimbas pada majunya pendidikan nasional, khususnya di wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Ini sesuai dengan buku Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru (PK Guru) yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (2010), menyatakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas, fungsi, dan peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oleh karenanya profesi guru perlu dikembangkan secara terus menerus dan proporsional sesuai jabatan fungsionalnya.

Berangkat dari kerangka berpikir tersebut, guru harus mengembangkan profesinya secara terus menerus supaya bisa melaksanakan tugas, fungsi, dan perannya secara profesional. Strategi dan metode baru yang bisa dikembangkan dalam profesi guru, bisa diperoleh sejalan dengan pengembangan profesi guru secara terus menerus. Pengembangan semacam itu menjadi sangat strategis mengingat tuntutan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru sebagaimana telah diubah dengan PP nomor 19 tahun 2017, menjelaskan bahwa “Guru wajib memiliki Kualifikasi Akademik, kompetensi, Sertifikat Pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi Guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Terkait dengan hal tersebut, salah satu kompetensi kepribadian guru adalah  mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan. Dan ini dapat dilakukan melalui APKS.

Untuk itu APKS PGRI Kab. Bojonegoro sudah merancang sejumlah program untuk peningkatan kompetensi tersebut. Baik secara reguler maupun situasional. Hal ini untuk mewadahi dinamisnya pergerakan laju informasi dan teknologi. Sehingga guru tak gagap akan perkembangan zaman. Selalu up to date. Dan berpikiran terbuka.

Bojonegoro, 8 September 2018

Jumat, 07 September 2018

Oleh: Ajun Pujang Anom

Ice breaking, selama ini yang diterapkan cenderung berada di wilayah main-main dengan mengutamakan laku-gerak siswa. Persoalannya, tak semua ruang kelas dapat mengakomodasi pergerakan siswa yang serba pencolotan alias lompat sana, lompat sini.

Artinya ruang kelas yang menyempit gegara overload-nya murid, tentu tak dapat memfasilitasinya dengan baik. Melihat hal ini, kemasan ice breaking harus situasional dan kondisional. Jangan terlalu kaku menerapkan. Sebab inti dari ice breaking adalah tool untuk mengembalikan semangat.

Dan di sini peran guru untuk mengembangkan pola-pola ice breaking yang sesuai dengan kelasnya. Jangan ngejiplak plek (mencontek seutuhnya). Suatu kali adakanlah pengembangan atau modifikasi ulang terhadap ice breaking yang sudah ada.

Dalam lelakunya ice breaking, diusahakan tidak menghabiskan anggaran. Karena memang aktivitas ini tidak harus setiap hari dilakukan. Meski setiap hari, juga tak apa-apa, tergantung kebutuhanlah. Dan tadi sudah dikemukakan, bahwasanya ice breaking untuk mengembalikan semangat siswa. Maksud dari mengembalikan semangat siswa adalah membuat siswa kembali fokus dan konsentrasi terhadap kegiatan belajar mengajar.

Maka daripada itu, wujud dari ice breaking bisa bermacam-macam. Jangan monoton dengan aksi teriak-teriak ataupun gerakan aerobik. Ice breaking bisa berupa apapun.

Seperti halnya saat ini saya lakukan bersama para siswa membuat KOPI (Komik Photo Kita). Saya dan anak-anak membuat kolase dari foto-foto kegiatan yang dilakukan. Lalu membubuhkan kata atau kalimat di atasnya. Sehingga jadilah semacam komik. Dan hari ini, adalah edisi perdana. Dengan judul "Siswa Super".

Bojonegoro, 7 September 2018