Oleh: Ajun Pujang Anom
Sumber gambar: http://www.ebonheart.net
Siapa guru yang hari Minggunya dihabiskan bergolek di tempat tidur? Hampir dipastikan tak ada, di hari ini malahan guru tambah "sibuk". Sebab hari Minggu dibuat untuk kegiatan bersih-bersih rumah besar-besaran. Ini saja sering kekurangan waktu. Belum jika ditambah acara pergi ke mantenan, beranjangsana ke rumah kerabat, piknik, training, maupun yang melakukan bisnis sampingan di akhir pekan. Manalah sempat untuk menjadikan hari Ahad, totalitas libur aktivitas? Meski betul hari itu dijadikan sebagai hari recharge diri.
Maka sangat terdengar menggelikan jika salah satu cocoklogi tentang guru, menyebutkan bahwa "guru, yen Minggu turu" (guru, kalau Minggu tidur). Ini sebuah nyinyiran tak beradab, kalau tak boleh disebut tak bermoral. Jadi ini bisa disebut sindiran yang melecehkan.
Bahkan seakan menyokong pemikiran yang salah kaprah, terhadap peran guru selama ini. Ada yang berpikir guru adalah sejenis profesi yang kental dengan nuansa kemalasan. Bagaimana tidak malas, menurut pendapat mereka, guru dicap hanya bisa marah-marah di kelas, memberi tugas berlebihan, suka mainan hape di sela mengajar, dan ribut jika tunjangan terlambat.
Mereka lupa, bahwa mereka dapat mengarungi kehidupan yang "keras" ini, berkat peran guru. Tanpa sentuhan tangan guru, mana mungkin, peradaban dunia bisa tetap berlangsung. Karena itu, sangatlah tepat bila guru disebut sebagai garda terdepan dari kebudayaan.
Menjadi guru artinya menjadi abdi kinasih bagi kemanusiaan. Setia ngemong dengan penuh ketelatenan dan ketulusan.
Bojonegoro, 23 September 2018

0 komentar:
Posting Komentar