Sumber gambar: https://www.elementarymatters.com
Membaca tulisan di atas, bisa jadi ada beberapa guru menjadi mendadak dongkol. Dan mungkin bisa bilang seperti ini, "Ih, apaan? Sok tau."
Saya sadar sesadar-sadarnya, bahwa fakta yang berhasil saya tangkap dan terbitkan ini, tak ayal akan memancing emosi beberapa pihak. Tapi saya ingat nasehat berharga, bahwa kebenaran itu selalu pahit, ketika diungkapkan. Untuk itu, fakta ini saya munculkan.
Agar apa? Agar kita mempunyai kesadaran. Melakukan auto-refleksi, sudah seberapa jauhkah peran-peran kita sebagai guru. Apakah kita sudah benar-benar menjalankan fungsi sebagai guru? Apakah kita telah tulus ikhlas mendampingi anak didik untuk menemukan dan mengembangkan potensinya?
Tak ada guru yang lebih baik dari lainnya. Yang ada, masing-masing guru mempunyai kehebatan. Dengan kehebatan ini, mereka berkolaborasi untuk menciptakan perikehidupan yang lebih baik. Sebab guru adalah agen peradaban yang sejati. Dan guru yang berprestasi dalam pengertian sebenarnya, bukanlah guru yang membuat diri dan muridnya meraih banyak penghargaan dan memenangi kejuaraan. Namun guru yang berhasil mengantarkan siswa-siswinya ber-akhlakul karimah, berbudi pekerti yang baik.
Bojonegoro, 11 November 2018

0 komentar:
Posting Komentar