:::: MENU ::::

Rabu, 14 November 2018

Oleh: Ajun Pujang Anom
Sumber gambar: http://www.drewlitton.com

Apakah kita sebagai guru sudah menampilkan citra diri positif? Eits, mungkin ada yang bertanya-tanya tentang apa itu citra diri. Citra diri adalah gambaran mental tentang diri sendiri yang diyakini kebenarannya. Citra diri ini dibentuk mulai sejak dini. Jadi ia berasal dari kultur, pengetahuan, dan pengalaman yang nantinya akan menciptakan apa yang terjadi pada dirinya di masa depan. Mengapa ia bisa disebut menciptakan masa depan? Sebab ia menjadi pemandu segala tingkah laku dan usaha yang dilakukan dalam keseharian.

Dari sini bisa dilihat betapa pentingnya citra diri bagi seorang guru. Tentunya sebagai guru tak maulah disebut mempunyai citra diri negatif. Masak sih ada guru yang mau dipanggil guru pemalas? Apalagi guru bodoh. Tak ada yang mau bukan?

Namun persoalannya, sudahkah menempelkan citra diri positif pada dirinya? Karena citra diri positif, akan mudah dikenali dan dilihat. Baik oleh sesama rekan guru maupun oleh siswanya.

Dari sisi murid sendiri, akan berperan besar pada perkembangan kepribadian mereka. Guru yang mempunyai pengetahuan luas dan serba bisa, akan mereka sebut sebagai "ensiklopedia berjalan atau wikipedia versi manusia". Guru yang ramah dan tidak suka marah-marah, akan digelari "guru yang sabar bin selow". Dari dua citra positif ini saja, sudah membuat mereka secara tak sadar melakukan *modelling*. Dari palung hati yang paling dalam, ada keinginan untuk menjiplak perilaku tersebut. Selain daripada itu, guru yang memiliki citra diri positif, cenderung melahirkan respek. Anak-anak menjadi lebih taat secara natural, tanpa dipaksa.

Apakah jika ada guru yang tak memiliki citra diri positif, bisa dirubah? Bisa, asal ada kesadaran dan keinginan yang kuat. Dan memang harus segera melakukannya, apabila tak punya, sungguh terlampau sulit. Misalnya suka menyuruh anak didiknya untuk mengarang. Eh, ternyata ketika ada pelatihan menulis, menolak untuk ikut dengan alasan, "Ah, saya itu nggak bisa menulis kok". Lha kalau tak bisa menulis, kok menyuruh orang untuk menulis. Ini kan namanya egois. Dan pastinya beliau asal suruh, tanpa mempunyai pengetahuan. Ini lho yang namanya merusak siswa. Dan ini baru satu permisalan saja.

Bojonegoro, 14 November 2018

1 komentar: