Oleh: Ajun Pujang Anom
Ice breaking, selama ini yang diterapkan cenderung berada di wilayah main-main dengan mengutamakan laku-gerak siswa. Persoalannya, tak semua ruang kelas dapat mengakomodasi pergerakan siswa yang serba pencolotan alias lompat sana, lompat sini.
Artinya ruang kelas yang menyempit gegara overload-nya murid, tentu tak dapat memfasilitasinya dengan baik. Melihat hal ini, kemasan ice breaking harus situasional dan kondisional. Jangan terlalu kaku menerapkan. Sebab inti dari ice breaking adalah tool untuk mengembalikan semangat.
Dan di sini peran guru untuk mengembangkan pola-pola ice breaking yang sesuai dengan kelasnya. Jangan ngejiplak plek (mencontek seutuhnya). Suatu kali adakanlah pengembangan atau modifikasi ulang terhadap ice breaking yang sudah ada.
Dalam lelakunya ice breaking, diusahakan tidak menghabiskan anggaran. Karena memang aktivitas ini tidak harus setiap hari dilakukan. Meski setiap hari, juga tak apa-apa, tergantung kebutuhanlah. Dan tadi sudah dikemukakan, bahwasanya ice breaking untuk mengembalikan semangat siswa. Maksud dari mengembalikan semangat siswa adalah membuat siswa kembali fokus dan konsentrasi terhadap kegiatan belajar mengajar.
Maka daripada itu, wujud dari ice breaking bisa bermacam-macam. Jangan monoton dengan aksi teriak-teriak ataupun gerakan aerobik. Ice breaking bisa berupa apapun.
Seperti halnya saat ini saya lakukan bersama para siswa membuat KOPI (Komik Photo Kita). Saya dan anak-anak membuat kolase dari foto-foto kegiatan yang dilakukan. Lalu membubuhkan kata atau kalimat di atasnya. Sehingga jadilah semacam komik. Dan hari ini, adalah edisi perdana. Dengan judul "Siswa Super".
Bojonegoro, 7 September 2018
Mantap. Sdh brapa edisi kopinya pak?
BalasHapus