"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki atau perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami (Allah) berikan kepadanya kehidupan yang baik." (An Nahl: 97)
Ayat di atas janji Allah. Siapa yang ingin naik kesejahterannya, naik karirnya, sukses bisnis dan usahanya, dan seterusnya, sukalah mengerjakan kebaikan-kebaikan. Melakukan kegiatan sosial di lingkungan, dan organisasi serta komunitas-komunitas lain diniati ibadah, bukan semata mencari yang lain. Maka Allah akan menata kehidupan kita. Sekali lagi, itu janji Allah. Dan Allah pasti menepati janji-Nya.
Kita seyogyany masuk dalam komunitas atau lembaga, atau organisasi. Dan di situlah pikiran, tenaga kita curahkan untuk ikut berkiprah. Kebaikan-kebaikan kita dengan ikhlas, kita curahkan. Kesulitan-kesulitan komunitas, kita tafsiri sebagai kesempatan berbuat baik. Kesuiltan-kesulitan bukan malah, kita benci dan jauhi. Tapi kita kelola bersama. Dengan semangat mencari keridloan Allah SWT. Dan hasilnya akan memantul ke diri kita, citra diripun bersinar. Nur cahaya Allah memenuhi jiwa, hati, dan raga kita. Alam pun akan tergetar dan siap membantu kesuksesan kita. Jack Canfield menyebutnya sebagai "The vibration of positive expectation". Getaran obsesi positif yang merambat ke alam semesta. Dari manusia-manusia yang ikhlas berbuat kebajikan yang bermanfaat bagi sesama.
Coba refleksi, mengapa karir, usaha bisnis kita seolah stagnan, dan tidak kunjung naik? Tentu kembali kepada pertanyaan inti. Sejauh mana, kita berbuat baik (bermanfaat) kepada sesama dalam komunitas-komunitas kita.
Memberi kemudian menerima. Anthony Robbins menasehati kita, "If you want to make your life work, you have to start with how to give". Jika Anda menginginkan kehidupan yang bermakna dan suskses. Anda harus memulainya dengan bagaimana cara kebaikan-kebaikan Anda bermanfaat bagi orang lain.
Bojonegoro, 19 Agustus 2018

0 komentar:
Posting Komentar