Oleh: Ajun Pujang Anom
Sumber gambar: freepik.com
Banyak yang mengeluh, bahwa merasa kesulitan menulis karena tak punya gagasan. Apakah pemikiran ini salah? Jika dinilai dari sisi kepengarangan, bisa jadi keliru. Lha wong bejibun ide di luar sana. Mau menulis tentang binatang, boleh. Mau menulis tumbuhan, silakan. Bahkan mau menulis seputar politik, sok atuh.
"Saya guru, je", ada yang bilang begini. Lalu dilanjut, "Masak nulis politik?" Memang ada aturan guru tak patut menulis politik? Tak ada lah. Malah guru harus menjadi garda terdepan dalam pendidikan politik. Guru jangan abai dalam urusan politik, meskipun tak terjun dalam politik praktis. Guru harus dalam posisi netralitas. Guru hadir dalam pewacanaan politik yang sehat atau santun. Tak boleh ikutan membakar-bakar sentimen. Guru mengajarkan bahwa dalam politik mengedepankan tata krama dan keguyuban. Dengan ini, nantinya anak-anak ketika besar punya etika yang baik. Tak suka hantam kromo. Tulisan di atas adalah penilaian dari sisi yang keliru.
Bagaimana halnya dengan yang tepat? Menulis seringkali bukan soal yang mudah. Mungkin benar, banyak bertebaran gagasan dimana-mana. Tapi apakah gagasan tersebut merupakan pilihan kita? Tidak jawabannya. Mengapa tidak? Karena setiap pilihan, selain faktor kesukaan, juga ada konsekuensi logis. Konsekuensi logis itu apa? Konsekuensi logis adalah hal-hal yang akan diterima. Bahasa seramnya, efek samping. Tentu takutlah, jika cuma menulis masuk hotel prodeo. Masak gegara menulis, dihakimi massa. Ini kan ngeri. Terlihat penilaian yang kedua ini, terlalu menakut-nakuti. Tidak mendorong semangat kepenulisan. Berbeda betul dengan yang pertama, terkesan menjlomprongkan alias sadis.
Lantas harus memilih yang mana? Lebih baik mencari jalan tengah di antara keduanya. Sebab apabila dipikir dalam-dalam, kedua penilaian sama-sama benarnya. Bagi saya, salah satu solusinya adalah menulis tema yang umum digunakan atau jika sudah pernah menulis, gunakan lagi. Namun dengan gaya penulisan yang berbeda. Tema yang umum itu seperti apa? Jika kita seorang guru, sudah jelas seputar pendidikan. Bisa tentang gaya belajar siswa, alat peraga, dan lain sebagainya. Bagaimana masih merasa tak punya gagasan? Atau memang pendapat itu hanya sekedar alasan belaka.

0 komentar:
Posting Komentar