Oleh: Ajun Pujang Anom
Sumber gambar: www.dreamstime.com
Ditanyai anak didik, suatu hal yang lumrah. Meskipun konten pertanyaannya terkadang membuat kita mengernyitkan kening. Kalau dilihat, bahkan tidak melulu berbentuk pertanyaan tunggal. Namun pertanyaan yang beruntun, memberondong. Mirip pertanyaan jurnalis, saat talk show atau konferensi pers. Menohok dan sering bikin tak berkutik.
Contohnya pertanyaan terkait rumah sakit berikut ini. "Mengapa disebut rumah sakit? Mengapa tidak disebut rumah sehat, kan pengennya sembuh? Kalau diberi nama rumah sakit, rasanya itu rumah penderitaan, dan menakutkan."
Seringkali kita, tidak siap, gagap. Karena ketidak-siapan inilah, kita suka mengeluarkan jurus pamungkas. Alih-alih mencerdaskan siswa, malah mematikan kemampuan berpikir kompleks mereka. Masih mending, jika counter-attack kita sebatas pernyataan, "Coba dicek dulu, apa sudah tepat yang kau tanyakan!" Atau semacam ini, "Menurut kamu sendiri, jawabnya apa?" Umpan balik seperti itu, meski tidak memuaskan siswa. Namun membuat mereka, menjadi berpikir lebih keras. Tidak asal tanya saja. Parahnya apabila kita ditanyai siswa dengan pertanyaan sejenis level langit ini, lebih tertarik dengan respon, "Kamu belum saatnya. Masih kecil. Nanti tahu sendiri."
Akibatnya apa, jika kita kerap menjawab dengan balasan model begini? Tentu pertumbuhan kekritisannya akan mandek, menjadi kerdil. Jangan harap mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang kreatif. Lha wong dari kecil, sudah dibabat paradigmanya.
Mengapa kita tidak memilih menjadi guru yang ready to use, siap pakai. Sehingga dapat menjawab segala tanya dengan smart dan penuh kelembutan. Misalnya tentang rumah sakit tadi. Kita bisa menanggapinya seperti ini, "Betul. Ketika kita ke rumah sakit, kita ingin sembuh. Bukannya ingin sakit. Rumah sehat artinya rumah dengan lingkungan yang menyehatkan, nyaman dan tentu saja asri. Jadi kalau rumah sakit, dinamai rumah sakit, kan tidak pas. Selain itu, penamaan ini untuk memudahkan penyebutan saja. Kenapa kamu juga mengusulkan tidak diberi nama rumah penyembuhan? Tadi kan kamu bilang ingin sembuh."
Kapan kita bersikap bijak seperti di atas? Sekarang? Besok? Kapan-kapan? Atau entahlah. Kita yang menentukan.

0 komentar:
Posting Komentar