Oleh: Ajun Pujang Anom
Sumber gambar: www.uniqueteachingresources.com
Beneran itu? Suer deh ✌. Biar tidak terbelit penasaran. Mari kita baca kisah-kisah para guru berikut ini.
Guru A
Sebelum saya bercerita tentang pengalaman menjadi guru. Saya akan bercerita soal mengapa memilih profesi guru. Keluarga besar saya, bukanlah guru. Bahkan rata-rata menjadi petani. Ada kerabat yang bilang, ini sebuah kecelakaan. Tentu saja, saya tolak perkataan tersebut mentah-mentah. Menjadi pendidik adalah pilihan sadar. Saya ingin ikut andil bagian dalam mencerdaskan bangsa. Makanya selepas SMA, saya ambil kuliah di FKIP.
Guru B
Bisa dikatakan, saya tidak sengaja menjadi guru. Sebagai anak orang tidak mampu, dapat sekolah sampai SMA saja, sudah syukur. Namun garis hidup seseorang, siapa yang tahu? Pada suatu hari, saya bertemu dengan ayah teman saya sewaktu SMA. Beliau tanya kerja dimana. Saya jawab serabutan. Lalu beliau menanyakan apakah saya punya keinginan untuk kuliah. Tentu saja, saya jawab mau. Beliau tersenyum dan berkata, "Nanti kamu akan saya kuliahkan." Dan akhirnya lah saya menjadi guru. Selama menjadi guru, tak dipungkiri ada dukanya. Namun lebih banyak sukanya, jika dikatakan.
Guru C
Jujur saja, sebenarnya saya agak malu. Soalnya tak pandai menulis. Khawatir salah ungkap. Kok guru tak bisa menulis? Itu pertanyaan yang saya takuti. Makanya saat diminta untuk menulis pengalaman menjadi guru. Gemetarlah tangan saya. Memerah muka saya. Selama menjadi guru, banyak persoalan yang saya hadapi. Apalagi saya sering berpindah-pindah tempat mengajar. Setiap pindah, selalu harus cepat beradaptasi. Ini yang seringkali menyulitkan bagi saya. Namun untunglah, rekan-rekan guru selalu memberi dorongan semangat. Agar tak mudah putus asa."
Guru D
Saya adalah keturunan guru. Di benak banyak orang, keturunan guru pastilah dimudahkan. Bagaimana tidak dimudahkan? Segala fasilitas telah dicukupkan. Benarkah seperti itu? Tentu benar, namun tidak 100%. Malah justru dengan menjadi keturunan guru, ada beban tersendiri. Seakan-akan hidup dalam bayang-bayang. Stress seperti ini, dipendam jauh-jauh dalam lubuk hati. Jadi ketika menghadapi murid, saya selalu tampil dengan ramah. Mengerjakan apapun dengan disiplin dan teratur. Syukurlah, siswa-siswa yang saya hadapi nurut-nurut dan kreatif. Sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik. Kalau dikatakan pernyataan saya ini terlalu membaik-baikkan, ya terserah. Karena faktanya begitu. Wajar saja, jika disebut dapat durian runtuh, beruntung. Bejo, kalau di Jawa, bilang."
Demikianlah 4 kisah para guru. Meski cuma paragraf awal. Namun sudah memahamkan bagi kita. Bahwa menjadi guru itu tidak selalu seindah yang dibayangkan. Ada saja onak dan duri. Tapi sikap kedewasaan yang ditonjolkan, itulah yang sampai ke kita.
Sehingga apabila ada yang mengatakan pekerjaan guru, hanya tinggal perintah, tinggal suruh. Mungkin yang berkata seperti itu, sedang khilaf atau ngelindur. Untuk itu dimaafkan saja. Sebab sikap pemaaf lebih baik dari sikap pemarah.

0 komentar:
Posting Komentar