:::: MENU ::::

Jumat, 31 Agustus 2018

Oleh: Ajun Pujang Anom


Sumber gambar: beritagar.id

Di Asian Games 2018, ada banyak "peristiwa" mencengangkan yang terjadi. Openingnya yang begitu menakjubkan. Dengan adanya aksi presiden yang muncul dengan aksi jumping-jumping dalam pembukaan itu. Yang tak lepas dari nyinyiran sebagian kita. Kecewa karena ternyata memakai stuntman. Yaelah bro, masak presiden kagak boleh pakai pemeran pengganti. Apa situ mau jamin jika pemimpin kita koit gegara hal sepele kayak gini? Mikir!

Kesediaan Pak Jokowi, untuk mau beraksi seperti ini, harus diapresiasi. Ingat kerjaan presiden itu banyak. Syuting seperti ini jelas menguras energi dan tentu saja juga waktu. Ini dinyatakan oleh sang creative director. Dan memang tak sia-sialah, hasilnya bikin melongo. Hingga tak salah, bila saya berucap untuk beliaunya, "Yang sabar bapak. Ini cuma ujian".

Please, janganlah kebencian terhadap seseorang, membuat lorong hati kita menjadi gelap gulita. Dan jangan pula karena omongan ini, saya dituduh bala cebong. Saya hanya sekedar mendudukkan perkara.

Dilanjut dengan aksi buka bajunya Jojo. Akibat ini, Joshua Suherman (mantan penyanyi cilik) ikutan ketiban sampur. Bagaimana tidak, banyak mention yang menyambangi dirinya. Tentu ini membuatnya KZL bukan alang kepalang. Kalau ada yang nyinyir, salahnya punya panggilan sama. Hello kakak, you tinggal di planet mana sih?

Banyak ucapan-ucapan seksis yang terlontar seperti: ovariumku meledak-ledak, rahim hangat, hamil online massal, pada Jojo. Apa mereka tak sadar, ini juga sebuah bentuk pelecehan seksual secara verbal? Jangan mengira, jika cowok diperlakukan seperti ini tak apa-apa. Hanya sebuah bentuk kekaguman yang luar biasa. Jangan anggap semacam itu. Ini ada dampak hukumnya. Bukankah perempuan juga ingin setara kedudukannya di muka hukum? Apalagi perkataan semacam itu jelas-jelas menjatuhkan martabat perempuan. Mana adat dan agamanya?

Janganlah kekaguman pada seseorang membuat hati kita menjadi buta. Melupakan harga diri dan keyakinan.

Yang terakhir, aksi Hanifan merangkul Pak Prabowo dan Pak Jokowi berbarengan. Aksi yang membuat publik terkejut dan memberikan big applause padanya. Betapa berani dan hebatnya dia. Berapa banyak pesilat yang mau memikirkan dan bernyali seperti ini? Meski jiwanya sudah setangguh baja. Tingkah yang melelehkan air mata. Bahkan pakar gerak tubuh mengatakan, ketulusan benar-benar terpancar dari dua sosok pemimpin kita ini saat melakukannya. Sungguh menyejukkan "udara pergaulan" perpolitikan kita, yang akhir-akhir ini semakin memanas.

Tak cukup aksi ini saja, pesilat muda ini tanpa tengsin melamar kekasihnya lewat televisi secara live. Super banget si anak muda ini. Benar-benar high-quality jomblo.

Terus apa korelasi aksi-aksi tadi dengan judul di atas? Jika ditarik benang merahnya, tiga aksi itu merupakan kejelian memanfaatkan waktu secara cerdik. Dari yang dikonsep secara matang sampai yang dadakan. Begitulah seharusnya kita sebagai guru, punya daya kreativitas dan inovasi yang tinggi dalam proses pembelajaran. Jangan terlalu mencintai "keluhan". Mengumbar keburukan kurikulum, fasilitas, dan murid. Belajarlah menyalahkan diri sendiri. Lha wong ngajarnya datar-datar saja. Mana mungkin siswanya jadi seperti yang diharapkan? Mengapa tidak sesekali (kalau perlu tiap hari) menerapkan ramuan yang wow-effect? Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?


Salam Perubahan
Bojonegoro, 31 Agustus 2018

0 komentar:

Posting Komentar