:::: MENU ::::

Sabtu, 01 September 2018

Oleh: Ajun Pujang Anom

Sumber gambar: www.quora.com

Sudahkah kita memikat hati anak didik kita? Jika jawabannya belum, mengapa kok belum? Bukankah kita mendampingi mereka selama setahun? Bagaimana proses pembelajaran menjadi nyaman, bila kita dibenci murid-murid kita?

"Ah, tak mungkinlah begitu. Kalau benci, pasti mereka terus terang", elak dari sebagian kita. Meski benci, pada umumnya mereka takkan "memberontak" pada kita. Apapun yang kita berikan pada mereka, akan "ditelan".

Jika anak benar-benar mencintai kita, segala hal yang kita kasihkan, akan "dilahapnya" dengan suka cita. Sudah begitukah keadaan ruang-ruang kelas di sekolah kita? Sudah tak adakah bentakan mirip knalpot brong, yang memekakkan telinga?

Kalau masih jawabnya, apa hubungan kita dengan murid mirip hubungan napi dan sipir? Kok bisa disangkutkan ke hubungan napi dan sipir sih? Lha iya, mana ada hubungan napi dan sipir dilandasi dengan kasih sayang yang penuh kelembutan?

Perlakuan kita kepada murid kita, tentunya dilandasi sebuah pemikiran atau keinginan tertentu. Ada yang sedari awal, sejak kecil, bercita-cita ingin mencerdaskan kehidupan bangsa. Ada yang mulai dari remaja. Ada yang bahkan sudah menjadi guru, baru terbuka pintu kesadarannya.

Masak ada guru yang seperti itu? Tentu saja ada. Sebab jujur saja, di antara kita menjadi guru tak selalu karena alasan turut serta dalam pencerdasan generasi penerus. Bisa jadi gegara keturunan atau kepepet karena tak ada kerjaan lainnya.

Terlepas menjadi guru itu, merupakan cita-cita, keturunan, kepepet, atau hal lainnya. Tak masalah. Sebab yang terpenting adalah, apakah kita selalu menuju pada arah perbaikan dan perubahan.

Perbaikan dan perubahan ini, harus mengacu pada terbentuknya ekosistem pendidikan yang sehat. Sehat batiniahnya dan sehat lahiriahnya. Sehat batiniahnya dalam arti apakah dalam proses pengajarannya terjadi hubungannya komunikatif, kreatif, dan inovatif. Sehat lahiriah dalam makna, semacam kebersihan lingkungan sekolah, cek kesehatan berkala, jajanan yang sesuai standar kesehatan, dan lain sebagainya. Dan segi sehat lahiriah inilah yang sering terabaikan oleh kita. Padahal pendidikan itu dibuat untuk membangun jiwa dan raga generasi masa depan. Sebab apa gunanya cerdas, jika fisiknya lemah lunglai?

Tentu sebagai guru, kita tak mau bukan? Oleh karena itu, kenali murid-murid kita, kesankan, dan dapatkan perhatiannya. Sehingga kita dapat mendampinginya berproses menjadi insan-insan yang berkesadaran.

Salam Perubahan
Bojonegoro, 1 September 2018
Categories: , , ,

0 komentar:

Posting Komentar